Blog BukuKas - Ketahui Perbedaan Hutang Baik dengan Hutang Buruk

Ketahui Perbedaan Hutang Baik dengan Hutang Buruk

Hutang ibarat pisau bermata dua, karena di satu sisi bisa menjadi hal yang baik, namun disisi lain bisa menyusahkan, tergantung bagaimana menggunakannya. Hutang baik adalah hutang yang digunakan untuk hal yang produktif untuk kebaikan di masa yang akan datang, sedangkan hutang buruk adalah hutang yang digunakan untuk hal-hal yang konsumtif dan untuk memenuhi keinginan semata, tanpa memperhitungkan dampak jangka panjangnya. Agar tidak salah langkah dan terjebak dalam situasi sulit akibat hutang, kenali dulu perbedaan hutang baik dan hutang buruk.

Hutang seringkali dianggap sebagai sesuatu yang buruk, yang menjadi masalah yang merugikan, bahkan memalukan, bagi pribadi maupun keluarga, sehingga banyak orang yang kerap menghindari untuk berhutang.

Namun ada kalanya kebutuhan hidup yang semakin tinggi, ditambah dengan sifat konsumtif yang seakan tidak ada habisnya, membuat hutang dianggap sebagai solusi, sehingga hutang pun menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern.

Untuk sebagian orang yang konsumtif, hutang bisa menjadi suatu kebiasaan karena dapat mempermudah mereka untuk segera mendapatkan barang yang diinginkan, terlebih pada saat mereka tidak memiliki uang yang cukup untuk membelinya. Kebiasaan buruk seperti ini bisa menjerumuskan mereka dalam situasi yang sulit. Apalagi, sekarang semakin banyak cara yang tersedia untuk bisa membeli barang secara kredit dan untuk mengajukan pinjaman secara online dengan persyaratan yang mudah.

Saat seseorang berhutang, akan ada beban bunga yang harus ditanggung diluar jumlah pokoknya. Jika hutang tersebut adalah hutang dalam hal pembelian suatu barang, maka jumlah yang dibayarkan untuk cicilan akan menjadi lebih besar dibandingkan jika membeli barang tersebut secara tunai. Inilah yang seringkali menambah beban finansial seseorang.

Tetapi, hutang ternyata tidak selamanya menjadi hal buruk. Karena ada jenis-jenis hutang yang justru  dapat menambah aset seseorang, sehingga kemudian hutang dikategorikan menjadi hutang baik dan hutang buruk.

Pada intinya, hutang yang baik adalah hutang yang produktif, yang sifatnya bisa menambah aset, sedangkan hutang yang buruk adalah hutang yang sifatnya konsumtif, yang biasanya digunakan untuk sekedar memenuhi keinginan tetapi tidak menambah aset, malah justru menggerogoti keuangan.

Kenali mana hutang yang baik, dan mana hutang yang buruk, sehingga kamu bisa lebih cermat dan mempertimbangkan secara matang sebelum memutuskan untuk berhutang.

Hutang yang Baik

Hutang dikatakan baik jika memang digunakan bukan untuk memenuhi keinginan, tetapi untuk kebutuhan, ataupun untuk membeli dan membiayai suatu hal yang produktif atau menghasilkan keuntungan, dan digunakan dengan cerdas.

Hutang yang baik digunakan dengan tujuan sebagai modal usaha ataupun investasi jangka panjang yang memberi nilai tambah. Nilai suatu aset yang dibeli dengan hutang produktif cenderung bertambah seiring waktu, misalnya properti. Dalam hal ini, dengan berhutang, seseorang bisa menghasilkan keuntungan.

Selain itu, hutang dikatakan baik jika jumlahnya tidak lebih dari 30% penghasilan per bulan, sehingga tidak mengganggu pos pengeluaran lain yang lebih penting.

Berikut ini beberapa contoh penggunaan hutang produktif :

  • Modal Usaha : Jika kamu ingin membuka usaha dan bermaksud untuk meminjam uang untuk modal atau tambahan modal, maka ini termasuk hutang yang produktif, terlebih jika usaha yang dijalankan dengan pinjaman tersebut bisa menghasilkan keuntungan yang besar.
  • Kredit Pemilikan Rumah (KPR) : KPR termasuk hutang yang baik karena nilai properti terus meningkat seiring berjalannya waktu. Jika dana tidak mencukupi, maka seseorang harus berhutang ke bank. Dengan skema KPR, pembelian rumah bisa dilakukan dengan mencicil selama jangka waktu tertentu. Namun, hal ini tidak merugikan, karena harga rumah akan terus naik, dan asalkan si peminjam bisa tertib membayar cicilannya hingga lunas.
  • Pinjaman untuk Pendidikan : Berhutang untuk edukasi termasuk dalam jenis hutang yang baik, karena pendidikan merupakan bagian dari investasi. Dengan tambahan ilmu dan keterampilan, seseorang bisa mendapatkan penghasilan yang meningkat, sehingga hal ini bisa mendatangkan kebaikan di masa mendatang.

Hutang yang Buruk

Hutang yang buruk merupakan hutang yang digunakan untuk barang konsumtif yang nilainya akan habis seiring waktu. Seringkali hutang sejenis ini biasanya digunakan demi keinginan sesaat untuk memiliki barang tertentu, namun pada akhirnya malah membuat orang yang berhutang menjadi terjebak dalam situasi sulit. Hutang dikatakan buruk jika jumlahnya melebihi 30% dari penghasilan, sehingga tidak memberatkan pengeluaran lainnya. Hutang juga dikatakan buruk jika digunakan untuk membeli barang yang nilainya menurun setelah kita membeli dan menggunakannya, serta untuk membeli barang karena keinginan dan gengsi, bukan karena kebutuhan yang mendesak.

BukuKas - Banner CTA Download BukuKas

Berikut ini beberapa contoh penggunaan hutang konsumtif :

  • Hutang kartu kredit : Hutang ini dianggap paling ‘menjebak’, karena saking mudahnya untuk digunakan dan membuat penggunanya menjadi lebih konsumtif dengan membeli produk yang sebetulnya tidak dibutuhkan. Hanya dengan menggesek kartu, atau memasukkan nomor kartu kredit serta security code (jika berbelanja secara online), maka barang yang diinginkan bisa didapatkan. Namun, bunga yang tinggi dan kebiasaan untuk membayar hanya sejumlah minimal, akan menjadi beban keuangan tersendiri.
  • Kredit Tanpa Agunan : Pinjaman jenis ini merupakan produk keuangan yang dapat menjadi hutang buruk jika tidak dimanfaatkan dengan baik. Namun pinjaman ini bisa membantu jika tujuannya tepat dan bisa dibayarkan sesuai skema yang seharusnya, misal untuk renovasi rumah.
  • Hutang untuk membeli mobil pribadi : Jika kamu membeli mobil dengan berhutang/mencicil, akan ada bunga yang harus dibayarkan setiap bulannya, sementara kamu juga diharuskan untuk melakukan perawatan rutin, mengisi bahan bakar, membayar pajak kendaraan. Di sisi lain, harga mobil terus menurun dari waktu ke waktu.
  • Hutang membeli barang-barang konsumtif dan barang habis pakai lainnya. Hutang untuk membeli barang-barang yang sifatnya konsumtif yang nilainya yang terdepresiasi di masa depan adalah sebuah keputusan yang buruk. Lihatlah barang-barang bekas yang sudah kamu pakai seperti smartphone, tas, perangkat elektronik, yang jika dijual maka harganya akan turun drastis. Oleh karena itu, hindari hutang dalam membeli barang konsumtif dan hutang dalam investasi yang buruk, sehingga kamu akan terbebas dari hutang.

Terdapat dua jenis hutang yaitu hutang yang baik dan hutang yang buruk. Kunci kesuksesan finansial adalah dengan menggunakan hutang untuk meningkatkan nilai aset dan menghindari hutang yang menurunkan nilai aset. Bagaimanapun juga, membayar berbagai kebutuhan dengan cara tunai merupakan cara yang lebih aman dan bijak, ketimbang terjebak dalam lilitan hutang. Jangan membeli barang yang harganya di atas kemampuanmu untuk mendapatkan penghasilan setiap bulannya. Pahami dengan baik perbedaan antara hutang baik dan hutang yang buruk. Jangan sampai terjebak dengan hutang buruk yang bisa memperparah kondisi finansialmu.

Artikel serupa

Leave a Comment