Blog BukuKas - Mengapa Perlu Hindari Berhutang untuk Memenuhi Kebutuhan?

Mengapa Perlu Hindari Berhutang untuk Memenuhi Kebutuhan?

Berhutang sebenarnya bukan sesuatu yang buruk selama segala sesuatunya berjalan lancar, di mana si peminjam bisa menyelesaikan kewajibannya sesuai jumlah dan tenggat waktu yang disepakati dengan pihak yang meminjamkan uang.

Namun, saat ini banyak orang yang menjadikan berhutang sebagai suatu kebiasaan, terlebih dengan maraknya tawaran pinjaman secara online dan pembelian barang secara kredit dengan persyaratan yang mudah dan proses yang cepat. Berhutang bukan lagi sekedar solusi untuk sesuatu yang mendesak, tetapi sudah menjadi kebiasaan.

Kebiasaan buruk seperti ini akan mengacaukan kondisi keuangan kamu, karena ada beban finansial yang harus dibayarkan berupa pokok pinjaman beserta bunganya. Hal ini akan mengganggu berbagai tujuan keuangan yang seharusnya dilakukan demi kehidupan yang lebih baik secara finansial. Berikut adalah beberapa alasan yang perlu kamu pahami, mengapa lebih baik jangan berhutang untuk memenuhi berbagai kebutuhan kamu.

1. Hutang akan mendorong kamu menghabiskan uang dalam jumlah yang lebih besar daripada penghasilanmu

Berhutang bisa menjadi godaan besar bagi banyak orang, karena dengan berhutang mereka kemudian bisa mendapatkan suatu barang yang ingin dimiliki saat itu juga tanpa perlu menabung terlebih dahulu untuk membelinya. Namun, banyak pula yang tidak sadar, bahkan mungkin tidak peduli, bahwa berhutang membuat mereka diwajibkan untuk membayar barang tersebut lebih mahal daripada membelinya secara tunai. Hal ini terjadi pada orang-orang yang sebenarnya memiliki daya beli yang rendah tetapi bergaya hidup konsumtif, dan mereka menjadi rentan untuk terjebak dalam hutang. Oleh karena itu, hindari berhutang untuk berbelanja secara konsumtif dengan jumlah yang sebenarnya lebih tinggi daripada jumlah penghasilanmu. Berbelanjalah sesuai kemampuan.

2. Hutang akan memaksa kamu membayar lebih tinggi dari yang seharusnya

Setiap kamu berhutang, pastilah ada bunga yang menyertai pokok pinjamannya, yang membuat jumlah uang yang harus dibayar pada akhirnya lebih tinggi dari yang seharusnya. Belanja dengan kartu kredit, misalnya, membuat kamu lebih mudah mendapatkan berbagai barang dan kebutuhan tanpa uang tunai. Tetapi ingat, ada keharusan untuk membayarkan beban bunga yang sudah ditetapkan di awal. Semakin tinggi tingkat bunga, semakin besar juga uang yang harus dibayarkan. Selain itu, semakin lama kamu menunda pembayaran, semakin tinggi juga beban hutang di masa depan dan uang yang perlu dibayarkan.

BukuKas - Banner CTA Download BukuKas

Beban bunga ini tidak akan dialami jika kamu bersedia membeli barang secara tunai. Lebih baik usahakan untuk menabung ketimbang harus berhutang. Jika jumlah uang yang ditabung sudah terkumpul, barulah kamu bisa membeli barang tersebut secara tunai.

3. Hutang akan menghabiskan penghasilan kamu di masa yang akan datang

Dalam proses pengajuan kepemilikan kartu kredit, pihak perbankan biasanya memberikan syarat penghasilan minimum untuk menilai kemampuan nasabah dalam membayarkan utang dari penghasilan yang ada. Biasanya, dengan penghasilan sekitar Rp 3 juta per bulan, kamu sudah bisa mendapatkan fasilitas kartu kredit di berbagai bank. Tetapi, jika kamu tetap mengajukan kartu kredit dengan penghasilan sejumlah itu, kamu sama saja menguras penghasilan yang akan kamu dapatkan kelak, sebab ada cicilan atau tagihan yang harus kamu bayarkan setiap bulannya karena penggunaan kartu kredit tersebut, belum lagi bunga dan iuran rutinnya, yang membuat tagihan semakin membengkak. Lebih berbahaya lagi jika kamu tidak memiliki sumber pendapatan tambahan, dan uang penghasilan Rp 3 juta tersebut seharusnya disimpan dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari, bukan untuk membayar hutang kartu kredit.

4. Hutang akan membatasi kamu melakukan hal lain

Jika kamu memiliki hutang, maka akan semakin kecil jumlah penghasilan yang bisa kamu gunakan untuk berbagai hal lain. Kamu juga akan semakin sulit menyisihkan uang untuk menabung dan berinvestasi, untuk dana berlibur, serta untuk menabung biaya pendidikan anak bagi yang sudah berkeluarga. Semakin banyak hutang yang harus kamu bayar, kamu semakin terhambat untuk melakukan hal-hal lain dengan penghasilanmu, karena ada porsi besar dari penghasilan tersebut yang harus digunakan untuk membayar hutang.

5. Kamu akan kesulitan mengajukan KPR

Semua kredit atau hutang yang dimiliki akan dipertimbangkan pihak perbankan saat kamu mengajukan KPR. Jika utang yang kamu miliki sudah terlalu tinggi dibandingkan penghasilan kamu, maka sangat besar kemungkinan untuk ditolak pihak perbankan dalam urusan pengajuan kredit rumah. Tentunya hal ini akan jadi hambatan besar untuk kamu yang ingin memiliki rumah sendiri.

6. Hutang akan menyebabkan stres

Jika kamu memiliki hutang, akan timbul perasaan khawatir tentang bagaimana cara melunasi pembayaran dan biaya bunga yang terus membengkak saat ditunda pembayarannya. Stres bisa dengan mudah menghampiri orang yang memiliki hutang. Bahkan sebuah survey yang dilakukan oleh Associated Press dan AOL mengungkapkan bahwa hutang bisa menyebabkan mental seseorang menjadi stres, yang pada akhirnya bisa mengganggu kesehatan fisik.

7. Hutang akan mengganggu kehidupan rumah tangga

Bagi yang sudah berkeluarga, hutang bisa sangat berdampak pada masalah keuangan keluarga dan akan mengurangi keamanan finansial bagi pasangan dan anak-anak. Masalah keuangan yang diakibatkan oleh hutang yang menumpuk bisa mengganggu kehidupan rumah tangga. Hal yang lebih parah bisa saja terjadi di kemudian hari, misalnya perceraian.

8. Hutang akan mempengaruhi skor kredit kamu

Catatan kredit yang kamu miliki dipengaruhi oleh banyaknya hutang dan kemampuan kamu untuk membayar hutang tersebut tepat waktu. Jika hutang yang dimiliki berjumlah besar dan kamu memiliki riwayat pembayaran kredit macet, maka akan semakin rendah juga skor kredit yang kamu miliki. Skor kredit yang rendah akan menyulitkan kamu untuk menggunakan produk dan layanan lain yang sangat bermanfaat di masa depan, seperti kredit rumah atau kredit untuk modal usaha, misalnya. Daripada memenuhi kebutuhan dengan cara berhutang, lebih baik menyisihkan uang tersebut untuk diinvestasikan.

***

Itulah beberapa alasan mengapa sebaiknya kita tidak berhutang untuk memenuhi kebutuhan, terlebih untuk hal-hal yang tidak esensial. Berhutang untuk sesuatu yang produktif boleh saja, misalnya hutang modal usaha, asalkan dikelola dengan baik dan dibayar sesuai dengan perjanjian.

Artikel serupa

Leave a Comment